WAWANCARA :
Rencana Pembangunan Infrastruktur Jalan Kabupaten Bogor
Dikirim oleh Berita Bogor Kabupaten, Pemerintahan, Utama
20.52
Pembangunan infrastruktur jalan marak dilakukan di Kabupaten
Bogor. Antara lain jalan menuju pintu Tol Sentul Selatan yang sebelumnya
terbengkalai, kini sudah selesai. Jalan ini bahkan akan ditembuskan ke Jalan
Tegar Beriman.
Kendaraan yang datang dari perkantoran yang berada di Jalan
Tegar Beriman tidak harus melintas di Jalan Jakarta-Bogor bila ingin masuk ke
Tol Jagorawi melalui pintu Tol Sentul Selatan. Sebagian jalan kini sudah
selesai dibangun. Sisanya, yang tinggal beberapa kilometer lagi, akan dibangun
setelah pemebebasan lahan.
Kemudian, terusan Jalan Tegar Beriman ke arah Parung. Jalan
ini akan tembus sampai ke daerah Jampang, Parung. Sebagian sudah selesai.
Sisanya tinggal delapan kilometer akan segera dibangun. Jalan ini kelak akan
menyatukan Kabupaten Bogor dengan Tangerang.
Yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan Jalan Poros
Tengah Timur, Ruas Sentul – Istana Cipanas. Pembebasan lahan untuk pembangunan
jalan sepanjang 43 kilometer ini sudah dilakukan. Tahun 2012 pembangunan fisik
akan dimulai. Jalan yang paralel dengan Jalan Raya Puncak ini kelak menjadi
alternatif sekaligus mengurai kemacetan yang sering terjadi di kawasan Puncak.
Itu jalan-jalan strategis. Sementara pembangunan jalan lokal
seperti pelebaran jalan dari perbatasan Ciampea sampai Atang Sanjaya juga
gencar dilakukan. Saat melakukan Jumling di Kecamatan Jasinga, Jumat
(31/3/2011) lalu, Rachmat Yasin juga menyatakan akan memperhatikan perbaikan
jalan provinsi yang rusak.
Wawancara
Pembangunan sejumlah ruas jalan itu tidak terlepas dari visi
dan misi membangun masyarakat Kabupaten Bogor yang bertaqwa dan berbudaya
menuju sejahtera. Harus dipahami bahwa menuju sejahtera ini ada jalan dan
rintangan yang harus dilewati. Oleh sebab harus ada rencana strategis. Intinya
adalah pertumbuhan ekonomi.
Berbicara tentang pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari
investasi, modal dan lapangan kerja. Konkritnya adalah peningkatan daya beli.
Kenapa kemudian diarahkan kepada infrastruktur jalan?
Filosofinya begini. Kalau kita memiliki jalan yang bagus, lebar, dan mulus maka
apapun bisa kita dilakukan. Sebaliknya, kita tidak bisa melakukan apa-apa kalau
hal itu tidak ada.
Saya berfikir Bogor secara keseluruhan harus berkembang.
Cibinong harus berkembang, kawasan Bogor lainnya harus berkembang. Tetapi kita
memiliki keterbatasan dalam hal anggaran. Kita tidak bisa memulai pembangunan
secara sekaligus di seluruh wilayah. Persoalannya bagaimana memulainya? Dalam
hal ini saya meletakkan perioritas pada hal-hal yang strategis.
Oleh karena itu saya memulai dari apa yang saya disebut
sebagai kawasan ibu kota yakni Cibinong. Tetapi harus diingat kawasan ibu kota
itu bukan hanya Cibinong, tetapi meliputi Citeuruep, Babakanmadang, Sukaraja,
Bojonggede, dan Tajurhalang.
Oleh sebab itu, membangun kawasan Cibinong sama dengan
membangun daerah-daerah di sekitarnya itu tadi. Kawasan itulah yang pertama
akan ditumbuhkan. Kawasan ini sekaligus akan kita persiapkan menjadi Kota
Metropolis menyongsong Kota Jakarta yang kelak menjadi Kota Megapolitan.
Secara gradual kita akan menyusul menjadi kota metropolitan
terlebih dahulu, sekaligus membantu menyelesaikan dampak sosial dari
pertumbuhan yang terjadi di Jakarta.
Nah, dalam konteks itu, tidak ada jalan lain, kita
membutuhkan investasi. Kita membutuhkan datangnya modal.
Kalau kita ingin orang datang dengan modal yang banyak dan
investasi yang besar, maka kita harus mampu mmberikan pelayanan yang baik dan
memuaskan. Kita harus bisa memanjakan para investor, memberikan kenyamanan
dalam berinvestasi, memberikan prospek yang menjanjikan keuntungan, memberikan
jamainan kepastian hukum, dan lain sebagainya.
Inilah yang mendasari pembangunan infrastruktur jalan yang
kita lakukan sekarang ini. Ini visi dan misi yang mendasari pembangunan
sejumlah infrastruktur jalan yang sebagiannya sudah selesai sekarang ini. Dalam
rancang bangun yang sudah digariskan, kita akan membuat jalan selebar-lebarnya,
semulus-mulusnya, sebagus-bagusnya.
Karena ide dasar membangun kawasan Cibinong, maka akan
muncul disparitas, akan muncul kesenjangan dengan daerah lain. Akan muncul
disparitas antara Cibinong dan luar Cibinong atau Kabupaten Bogor yang lain.
Di utara misalnya ada Parung, di selatan ada Ciawi, Cisarua
dan Cigombong, di timur ada Jonggol, di barat ada Leuwiliang. Disparitas ini
akan membuat mereka iri hati kepada Cibinong dan complaint pada saya.
Saya akan menjawab, ini adalah tantangan. Yakni, bagaimana
setelah Cibinong rapi, maka dampak positif dari investasi yang ditumbuhkan di
Cibinong terdistribusikan ke wilayah-wilayah lain sesuai potensinya
masing-masing.
Jadi, pada tahap selanjutnya kita akan membangun jalan
tembusan dari Bojonggede sampai Parung, membuat conecting antara dua jalan
negara bahkan sampai ke Jagorawi. Membuat jalan Bogor-Jakarta lewat Parung,
Bogor-Jakarta lewat Cibinong dan Jagorawi.
Untuk apa jalan tembusan ke arah utara? Karena kita akan
membangun wilayah itu sebagai pusat budidaya ikan air tawar. Di sana juga akan
kita jadikan pusat pertanian, yang saya sebut dengan revitalitasi pertanian.
Nah, tanpa jalan yang bagus di kawasan Cibonong, tidak ada orang yang mau jalan
ke sana. Lewat Parung macet, Serpong juga macet.
Kemudian masyarakat di wilayah selatan akan complaint juga.
Mereka akan mempertanyakan mengapa wilayah bagian selatan tidak dibangun. Saya
akan mengatakan, saya selesaikan dulu kesemrautan yang terjadi di kawasan
Puncak. Dengan cara apa? Saya observasi, saya pelajari, apakah dengan pelebaran
jalan? Ternyata tidak mungkin, karna begitu banyaknya pemukiman yang permanen
dan bagus-bagus di pinggir jalan. Langkah pelebaran juga tidak efektif, karena
maksimal pelebaran yang bisa dilakukan hanya beberapa meter saja.
Saya paham, bahwa kawasan Puncak memang harus dibenahi,
karena kalau tidak mereka yang sudah berinvestasi di sana akan rugi. Oleh
karena itu saya harus membuat alternatif. Untuk memecahkan masalah kemacetan,
maka harus ada alternatif bagaimana agar kalau ke Puncak tidak hanya lewat
Gadog. Maka saya buat yang namanya jalan ke Sentul sampai Istana Cipanas
melalui Sukamakmur. Nanti akan ada interchange ke arah Cilember.
Keyakinan saya, dengan jalan baru yang representatif selebar
30 meter dan panjang 43 kilometer, akan sangat membantu bahkan mengurai dan
menyelesaikan masalah kesemrautan dan mengembalikan normalitas kehidupan di
Puncak.
Dengan jalan baru (sementara ini disebut dengan Jalan Posor
Tengah Timur), maka kita membuktikan bahwa pembangunan itu adalah khikmah,
bukan masalah, karena kita memberikan sesuatu yang baru tanpa melakukan
penertiban yang merugikan atau mengganggu ketenangan orang-orang yang terkena
penertiban. Dengan ini saya sudah menjawab dan membuka kawasan timur sekaligus
menjawab complaint masyarakat. (als)
Menurut saya pembangunan di kabupaten bogor sebagai kota penunjang seharusnya bisa lebih ditingkatkan untuk
membantu perkembangan dari kota jakarta sebagai kota metropolitan. Yang
seharusnya tidak terkendala oleh anggaran yang berlaku sebab dari segi ekonomi
bisa membantu masyarakat untuk mempercepat proses penyediaan barang dan jasa
bagi kabupaten bogor sendiri atau untuk kabupaten-kabupaten di sekitarnya. Dan
juga sebagai masukan kas kepada kas daerah dengan membangun akses jalan pintas
menuju kawasan puncak, karena kawasan ini menjadi daerah tempat berlibur bagi
masyarakat jakarta dan sekitarnya di akhir pekan , sehingga akan menguntungkan bagi pemerintah dimana akan banyak pajak yang
masuk dari para investor sebagai pajak .
http://www.beritabogor.com/2011/05/wawancara-rencana-pembangunan.html